My Diary.
to Share my Life Events

Oktan dan Pencemaran



Kebanyakan orang mengira bahwa angka oktan adalah identik dengan mutu bensin. Padahal angka oktan hanyalah satu diantara sekian banyak parameter pada spesifikasi bahan bakar bensin. Bila ditinjau dari kepentingan lingkungan hidup, khususnya masalah pencemaran udara, angka oktan  perlu untuk diupayakan agar tidak berlebihan, bahkan sedapat mungkin dikurangi sampai batas optimal. Angka oktan menunjukkan kemampuan bahan bakar bensin mencegah terjadinya detonasi/ketukan pada proses pembakaran dalam bensin. Bila angka oktan tidak memadai, maka ketukan yang terjadi dapat merusak mesin atau mengurangi kinerja dan efisiensi mesin. Tapi penyesuaian angka oktan tidak bertujuan menambah kandungan energi bensin, melainkan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin energi yang dapat diperoleh pada proses pembakaran dan melindungi mesin terhadap kerusakan akibat detonasi. Meskipun demikian, nilai kalori bensin yang dinaikkan oktannya dapat tetap atau berubah sesuai jenis bahan pengungkit oktan yang dipakai.
Di samping angka oktan, yang penting kita perhatikan pada spesifikasi bensin sehubungan dengan masalah pencemaran udara, antara lain ialah :
- Sifat penguapan (volatility), yaitu Rvp (reid vapour pressure) dan ASTM distillation.
- Stabilitas terhadap oksidasi.
- Komposisi kimia bensin, terutama kandungan senyawa pengungkit oktan TEL, senyawa-
  senyawa sulfur, olefinic hydrocarbone, benzene , dan aromatic hydrocarbone lainnya.
- Penggunaan oxygenate, aditif antioxidant, metal deactivator dan aditif deterjen yang efektif.
Makin tinggi Rvp atau makin rendah titik didih awal sampai titik didih 30 % penguapan dari ASTM distillation, akan makin tinggi tingkat penguapan. Fraksi bensin yang mudah menguap tersebut adalah sumber utama VOCs (Volatile OrganicCompounds) yang ada di udara perkotaan. Bila yang menguap tinggi kadar olefins I dan aromatic-nya, maka dampak terhadap lingkungan dan kesehatan akan makin buruk karena selain bersifat racun dan carcinogenic (penyebab kanker), senyawa-senyawa tersebut juga sangat reaktif. Dibawah pengaruh suhu panas dan sinar matahari, VOCs akan bereaksi dengan NOx (Nitrogen oxides) dan membentuk ground level ozone (O3). Ozon merupakan komponen utama dari smog., yaitu kabut yang terdiri dari partikel-partikel halus, lazim disebut particulate matter. Partikel di bawah 10 micron (PM10)        bersama O3 dan NOx dapat merusak dan melemahkan fungsi paru-paru serta bagian-bagian lain dari sistem pernapasan.

Stabilitas kimia bensin masa kini pada umumnya makin rendah akibat perlunya penyesuaian terhadap naiknya compression ratio dari mesin -mesin generasi baru serta program global menurunkan/menghapuskan TEL (Tetra Ethyl Lead). Untuk memenuhi kebutuhan oktan, kilang-kilang terpaksa menggunakan HOMC (high Octane Mogas Component) yang kebanyakan mempunyai kadar olefins dan heavy aromatic yang tinggi. Jenis-jenis hydrokarbon tersebut sering disebut dirty octaneyaitu oktan yang kotor terhadap mesin maupun lingkungan. Senyawa-senyawa tersebut memiliki ikatan-ikatan karbon tak jenuh (ikatan rangkap) yang sangat reaktif.
Hasil reaksi oksidasi dan polimerisasi dari senyawa-senyawa tersebut adalah gum (getah). Endapan getah menjadi deposit yang mengotori karburator, injector serta intake manifold. Deposit yang terbentuk juga merekat sebagai kerak pada intake valve sampai dalam combution chamber) ruang bakar. Lapisan kerak tersebut akan menaikkan compression rasio dan suhu ruang bakar dengan akibat detonasi (ngilitik), kenaikkan kebutuhan oktan dari mesin serta meningkatnya emisi gas buang beracun sebagai hasil pembakaran tak sempurna yaitu, CO, NOx dan UHC (Unburned hydrocarbon). Selanjutnya reaksi NOx dan UHC dapat menimbulkan racun-racun udara lainnya yaitu O3, PM10 bahkan PM2.5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Untuk meningkatkan stabilitas bensin, harus ditambahkan aditif antioxidant dan netaldeactivator. Untuk menanggulangi berbagai dampak negatif dari terbentuknya gum dan deposit pad intake system dan combustion chamber, harus dipakai aditif deterjen yang mampu membersihkan seluruh sistem induksi sampai ke ruang bakar.
Dampak terhadap lingkungan dan kesehatan dari NOx dan hydrocarbon telah kami singgung diatas. CO (carbon monoxide) yang merupakan komponen gas buang yang  sangat berbahaya untuk kesehatan perlu juga kita bahas berikut ini. CO adalah gas yang tidak berwarna, juga tidak ada rasa maupun bau. Meskipun tidak langsung merusak paru-paru, tapi bila terhirup dan masuk kedalam aliran darah, akan terikat secara kimia dengan hemoglobin dalam sel-sel darah merah membentuk carboxy-hemoglobin. Terikatnya hemoglobin oleh CO akan melumpuhkan kemampuannya untuk mengangkut oksigen ke otak, jantung dan organ tubuh yang lain karena CO mengikat hemoglobin 220 kali lebih kuat dari O2 (oksigen). Keracunan gas CO dapat berakibat koma bahkan kematian (terutama dalam ruangan tertutup.) Bila sering terhirup CO, tubuh mudah letih dan kemampuan kerja menurun. Mengenai daya racun TEL, mungkin sudah lebih banyak diketahui masyarakat, yaitu terutama dapat menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) dan perkembangan mental / emosi pad anak-anak balita. Keracunan timbel juga menimbulkan kenaikan tekanan darah dan kerusakan organ-organ vital terutama ginjal, hati dan otak.
Kendaraan bermotor merupakan sumber utama (+ 70%) dari seluruh emisi racun di udara. Meskipun pemerintah sudah lama mencanangkan program langit biru, namun sayangnya
spesifikasi bensin di Indonesia hanya mencantumkan sebagian dari kriteria teknis tersebut di atas. Super TT yang disebut sebagai bensin yang ramah lingkungan memang tidak lagi mengandung senyawa timbel (TEL), tapi sebaliknya olefins dan aromatichydrocarbon-nya sangat tinggi. Ditambah lagi tidak adanya aditif deterjen dalam bensin jenis manapun di Indonesia, menunjukkan masih rendahnya mutu bensin kita bila ditinjau dari segi lingkungan hidup.
Semua jenis mesin kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin, tanpa kecuali akan mengalami kenaikkan kebutuhan oktan setelah jarak pemakaian tertentu. Istilah yang lazim dalam bahasa Inggris adalah ORI (Octane Requirement Increase). Gejala ORI sudah lama diketahui dan merupakan penyebab pemborosan yang cukup besar bagi industri perminyakan maupun para pemilik mobil berbahan bakar bensin. Akibat adanya ORI , angka oktan bensin selain harus sepada dengan compression ratio dari mesin, masih harus pula ditambah sejumlah oktan yang dianggap perlu untuk penyesuaian nilai rata -rata ORI yang te rjadi. Semakin tinggi angka oktan, semakin tinggi pula biaya pembuatan bensin karena peningkatan pemakaian TEL dan/atau HOMC.

Kemajuan teknologi kimia dibidang aditif bahan bakar kini telah mampu mengurangi ORI yang terjadi pada mesin dan memungkinkan perbaikan kinerja anti knock (antingilitik) yang praktis, ekonomis dan bersih lingkungan. Kemampuan mengurangi ORI dari aditif bensin generasi terbaru berhubung langsung dengan kemampuannya membersihkan timbunan kerak pada katup-katup dan dalam ruang bakar mesin. Aditif bensin dari generasi terbaru juga mampu mengurangi emisi gas NOx yang selama ini belum dapat dicapai dengan aditif generasi sebelumnya. Aditif bensin dari generasi lama yang tidak dapat membersihkan ruang bakar hanya mampu mengurangi emisi gas CO dan hydrocarbon. Penggunaan aditif bensin generasi lama bahkan menambah extra ORI sebagai akibat deposit ruang bakar yang lebih banyak. Banyak aditif bensin generasi lama juga mengandung unsur chlor yang pada proses pembakaran dapat menimbulkan senyawa dioxin yang sangat beracun.
Dengan biaya yang masih terjangkau, setidaknya kita dapat lebih lanjut menurunkan TEL dalam bensin dan menggantinya dengan MTBE. Selain itu diperlukan juga penambahan antioxidant, metal deactivator dan aditif yang sanggup membersihkan ruang bakar, menurunkan NOx (dismaping CO dan hydrocarbon), serta anti-ORI. Bila ini dilaksanakan, pencemaran udara akan menurun secara nyata dalam waktu relatif singkat, sehingga program langit biru tidak lagi hanya merupakan slogan belaka.
Sebagai kesimpulan, untuk memaksimalkan upaya mem-biru-kan bensin dalam rangka program langit biru, harus diupayakan pemakaian semaksimal mungkin komponen clean octane yaitu alkylate, isomerate, MTBE dan penggunaan aditif yang mampu menurunkan ORI dan NOx. Yang paling layak secara ekonomis untuk segera dilaksanakan adalah penggunaan MTBE dengan batasan minimum untuk mengganti paling tidak sebagian TEL dan aditif deterjen yang anti ORI di samping antioxidant dan metal deactivator. Semoga tulisan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan kepedulian kita terhadap mutu udara yang kita konsumsi setiap saat.
 Oleh : J. Purwosutrisno Sudarmadi
Power Maker Power Maker Author

Submenu Section

Labels

Social Icons

Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

Google+ Followers

Popular Posts

Become a Fan

Kunjungan

Image Credits

header-menu

video

Labels

Chat

Flickr Images

Social

nocopy



Diesel with Fire Blast & Oil Active Technology

Popular Posts

About me

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Labels

Popular Posts